|
Harga produk tekstil bakal naik 10% |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 01 November 2007 |
|
JAKARTA: Harga produk tekstil dan garmen akan naik hingga 10% mulai bulan depan, menyusul kenaikan harga bahan baku serat sintetis yaitu purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG).
Harga minyak yang sempat menyentuh level US$90 per barel, akan membuat harga PTA dan MEG naik hingga US$50 per ton, dari kisaran US$800 per ton pada saat ini.
PTA dan MEG merupakan produk turunan minyak bumi (petrokimia) yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan serat sintetis yang selanjutnya diolah menjadi berbagai produk tekstil.
Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (Apsyfi) Kustarjono Prodjolalito mengatakan kenaikan harga produk tekstil dan garmen tersebut akan menurunkan volume penjualan karena konsumen akan menurunkan pembelian.
"Semua naik. Harga terpaksa kami naikkan karena biaya produksi akan naik hingga lebih dari 10% karena peningkatan bahan baku itu. Harga tekstil dan garmen akan naik. Pembeli pasti akan menurunkan pembelian dan akibatnya akan ke kami juga," ujar Kustarjono pekan ini.
Direktur PT Panasia Indosyntec Suwadi Bing Andi mengatakan harga MEG diperkirakan naik menjadi US$1.500 per ton dari US$1.300 per ton pada saat ini.
"Kami memang punya kontrak dengan produsen MEG dan PTA. Namun kontrak tersebut hanya untuk kontrak penyediaan volume kebutuhan kami, sehingga ketersediaan bahan baku terjamin, sedangkan soal harga dinegosiasikan setiap bulan. Jadi, harga bahan baku kami juga akan ikut naik pada bulan depan," jelasnya.
Namun, Suwadi belum dapat memperkirakan dampak kenaikan harga bahan baku tersebut terhadap kenaikan biaya produksi perseroan dan kenaikan harga jual yang akan dilakukan.
"Kami akan berhitung, karena kenaikan bukan hanya terjadi pada bahan baku, tetapi juga pada bahan pendukung lainnya," tambahnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, produsen PTA di Indonesia antara lain Amoco Mitsui PTA Indonesia, Mitsubishi Chemical Indonesia, Polyprima Karya Reksa, dan Polysindo Eka Perkasa. Produsen MEG di Indonesia saat ini adalah Polychem Indonesia.
Namun Panasia, menurut Suwadi, mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan baku bagi pabrik mereka.
1 Juta ton
Sementara itu, Kustarjono mengatakan kebutuhan serat sintetis di Indonesia saat ini sekitar 1 juta ton per tahun, sedangkan total produksi serat sintetis nasional pada tahun ini ditargetkan sebesar 850.000 ton dari total kapasitas terpasang 1,2 juta ton.
Produksi serat nasional pada tahun lalu hanya mencapai 740.000 ton, karena kalah bersaing dengan serat-serat sintetis impor murah yang membanjiri pasar domestik.
Namun, dia yakin kondisi pasar domestik akan membaik karena sejak tiga bulan serat sintetis impor mulai berkurang, karena mesin produksi di salah satu pabrik berskala besar dari negara asal produk murah itu rusak.
Jumat, 26/10/2007 00:00 WIB
Oleh Yeni H. Simanjuntak
Bisnis Indonesia
bisnis.com
URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/manufaktur/1id27779.html
|