Menu Content/Inhalt
Home arrow News arrow Latest arrow Industri Sulit Meningkatkan Ekspor
Industri Sulit Meningkatkan Ekspor PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 03 July 2007
Bagaimana dampak kenaikan harga minyak internasional yang cukup tinggi terhadap industri serat sintetik?
Kenaikan minyak bumi sangat berpengaruh terhadap bahan baku Mono Ethylin Glicol. Dengan kenaikan harga minyak dunia US$ 10/barel maka mengakibatkan kenaikan harga serat sintetik US$ 0,25/kg tanpa melihat kondisi pasokan dan permintaan. Harga akan lebih tinggi kalau pasokan kurang permintaan tinggi. Sekarang dengan harga minyak yang begitu tinggi, terjadi over supply di pasar dunia karena dengan naiknya harga serat sintetik maka harga produk garmen dan tekstil tinggi sehingga masyarakat menunda pembelian.
<
Apakah kondisi ini mempengaruhi ekspor serat sintetik Indonesia?
Terjadinya over suplai memang mempengaruhi ekspor impor. Tapi untuk sementara Indonesia masih aman karena produksi lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi itu berpengaruh besar terhadap negara, seperti Korea, Taiwan yang produksi sintetiknya tinggi, namun daya serap dalam negeri rendah

Bagaimana jika harga minyak internasional tetap tinggi?
Kita mengkhawatirkan kalau minyak bumi terus bertengger di atas US$50/barel sampai pertengahan 2005, maka produksi akan anjlok. Itu bisa menjadi lingkaran setan, kalau di hulu tidak bisa menjual maka di hilir juga akan berdampak sama. Itu akan sulit digerakkan.

Bagaimana dengan kondisi industri sintetik pasca kuota TPT dan harga minyak bumi yang sedang tinggi?
Yang menerima akibat dari minyak bumi itu seluruh dunia. Di Indonesia dengan adanya kuota yang sudah puluhan tahun, ada pihak yang ongkang-ongkang menikmati jatah kuota dan tidak mendapat kuota padahal sebenarnya bisa karena kualitasnya bagus dan bisa mensuplai dalam jumlah banyak. Tetapi karena tidak punya kuota tidak bisa menjual ke negara itu. Memang akibatnya akan ada penurunan ekspor tapi itu hanya dialami oleh perusahaan yang menikmati fasilitas kuota. Di Indonesia ada dua pihak, pihak yang senang dan khawatir. Untuk pabrik sintetik kita tidak terimbas, karena pabrik tekstil di Indonesia mati, serat sintetik bisa ekspor.

Tapi melihat pasar dunia sudah terjadi over supplay?
Bagaimana juga di dunia produksi serat sintetik mencapai 20 juta ton per tahun. Kalau harga minyak dunia turun ke US$40/barel maka pasar serat sintetik kembali normal. Diperkirakan produksi serat sintetik 10 tahun mendatang menjadi 30 juta ton. Tapi kan penduduk juga bertambah. Industri sintetik adalah industri padat modal, kalau ada yang berani berinvestasi karena yakin pasarnya sudah pasti ada. Kalau tidak maka rugi besar. Industri ini bukan industri yang dengan gampang dipindahkan.

Apakah industri serat sintetik sangat yakin dengan pasar TPT 2005?
Kekhawatiran bahwa kita tidak bisa menjual, pasti ada. Mungkin akan ada penurunan, tapi pasti bisa terjual. Kalau sampai utilisasi turun menjadi 70 persen, maka masih bisa mendapat untung meski kecil. Sekarang rata-rata utilisasi industri serat sintetik dunia kecuali Cina sudah 80 persen.

Apakah ada target menaikkan ekspor?
Masih sulit dengan kondisi dunia seperti sekarang. Tujuan kita adalah mengoptimalkan pasar dalam negeri. Tapi seluruh masalah yang menghambat pertumbuhan pasar dalam negeri harus lebih dulu dibenahi pemerintah. Penyelundupan, misalnya, kalau itu bisa ditanggulangi pasti aman. Apabila harga minyak turun US$10/barel industri akan mampu kapasitas produksi meningkat 90 persen.

Bagaimana dengan upaya mencari pasar tujuan ekspor baru?
Mencari pasar baru sulit, kita ingin bermasin dalam pasar domestik lebih besar.

Bagaimana pertumbuhan industri sintetik?
Sekarang, rata-rata pertumbuhan 6 persen, seharusnya bisa 10 persen karena kapasitas kita baru 80 persen. Kenaikan yang itu tidak berarti apalagi dihubungkan dengan lonjakan penduduk didunia. Dibanding dengan lima tahun lalu pada masa keemasan industri teksti pertumbuhan bisa sampai 10 persen. Apalagi cost produksi sangat tinggi, sehingga pertumbuhan itu rendah.

Indonesia sampai saat ini mengimpor serat sintetik juga?
Beberapa produsen tekstil mengimpor tetapi jumlah impor seluruhnya tidak terlalu banyak, kurang dari 10 persen atau sekitar 50.000 ton. Produk impor itu sebenarnya diproduksi di dalam negeri. (mis)
 
 Copyright © Sinar Harapan 2003
 
Last Updated ( Tuesday, 03 July 2007 )
 
< Prev   Next >